Selasa, 17 April 2012

Buyers Asal China dan India Borong CPO

Isu perlambatan ekonomi China menggerus harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO). Harga CPO dalam dua pecan terakhir ini terpangkas di level terendah. Pasar cemas melambatnya ekonomi China akan menyurutkan permintaan minyak sawit. Pasalnya, negara tersebut merupakan pengonsumsi minyak nabati terbesar di dunia.

Kontrak CPO untuk pengiriman Juni di Malaysia Derivatives Exchange tergerus 1,1% ke posisi RM 3.470 (US$ 1.130) per metrik ton. Ini merupakan harga terendah sejak 30 Maret. Selanjutnya, kontrak yang sama mengakhiri sesi perdagangan pagi di level RM 3.488 per metrik ton.

karet I su perlambatan ekonomi China menggerus harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO). Harga CPO dalam dua pecan terakhir ini terpangkas di level terendah. Pasar cemas melambatnya ekonomi China akan menyurutkan permintaan minyak sawit. Pasalnya, negara tersebut merupakan pengonsumsi minyak nabati terbesar di dunia.

Kontrak CPO untuk pengiriman Juni di Malaysia Derivatives Exchange tergerus 1,1% ke posisi RM 3.470 (US$ 1.130) per metrik ton. Ini merupakan harga terendah sejak 30 Maret. Selanjutnya, kontrak yang sama mengakhiri sesi perdagangan pagi di level RM 3.488 per metrik ton.

Pekan lalu, China melaporkan, pada kuartal pertama tahun ini, produk domestik bruto meningkat 8,1% dibanding tahun lalu. Ini merupakan kenaikan yang terkecil sejak pertengahan 2009. Pertumbuhan di kuartal pertama pun lebih rendah dibanding kuartal terakhir yang mencapai 8,9%.

Ker Chung Yang, analis Phillip Futures Pte. menilai, data PDB China tidak menggembirakan. “Apalagi, koreksi harga yang cukup tajam di akhir pekan lalu telah menyebabkan sentimen berbalik secara signifikan. Risiko penurunan akan lebih besar ke depan,” prediksinya.

Di sisi lain, surveyor Intertek melaporkan, dalam 15 hari pertama di bulan April, ekspor dari Malaysia turun 15% dibanding periode yang sama bulan lalu, yaitu menjadi 594.798 ton. Ker menyebut, permintaan ekspor mungkin tidak akan terlalu menggembirakan ke depannya, sehingga akan menyebabkan harga minyak sawit tertekan.

Kendati perekonomian China melambat, namun harga minyak mentah naik terus menuerus hingga menembus US$ 100 per barel mendorong pembeli atau buyers asal China dan India menyerbu Indonesia untuk memborong pasokan minyak sawit mentah (crude palm oil (CPO)

Wakil Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun mengatakan, sawit dapat diolah menjadi biofuel, produk substitusi minyak mentah, sehingga dibutuhkan industri internasional sebagai bahan bakar.

Harga minyak mentah yang terus naik di atas US$ 100 per barel dan produksi berbagai jenis minyak nabati yang rendah membuat permintaan CPO meningkat. Indonesia saat ini ‘dibanjiri’ permintaan dari India dan termasuk dari China.

Permintaan CPO India pada 2012 ini diprediksi sebanyak 7,1 juta ton, naik dari 2011 yang sebesar 6,75 juta ton. Ekspor CPO Indonesia di 2012 diperkirakan sebagian besar ditujukan ke India. Ekspor CPO Indonesia terbesar kedua dan ketiga diarahkan ke China dan Uni Eropa yang juga diperkirakan mengalami kenaikan permintaan.

Impor CPO China pada 2012 diperkirakan sebanyak 6,65 juta ton, meningkat dari 5,95 juta ton di 2011. Sementara Uni Eropa membutuhkan 5,6 juta ton CPO di 2012, naik dibanding 2011 sebesar 5,1 juta ton.

Pembeli dari China dan India memborong sawit Indonesia karena negeri ini sudah menjadi negara produsen dan eksportir sawit terbesar di dunia. Data Kementerian Pertanian menyebutkan, Indonesia menguasai 44,5% pasar sawit dunia dengan volume produksi mencapai 19,1 juta ton pada 2010. Indonesia mengungguli Malaysia yang menempati posisi kedua dengan pangsa 41,3% dari volume produksi 17,73 juta ton.

Ranking ketiga ditempati Thailand yang menguasai 2,7% pasar sawit dunia, disusul Nigeria dengan pangsa 2% dari total pasar sawit dunia, kemudian Kolombia dengan pangsa 1,9%. Total produksi sawit dunia mencapai 42,9 juta ton.

Menurut lembaga independen internasional, Oil World, Indonesia diperkirakan menguasai 47% pasar minyak sawit dunia di 2011. Sementara pangsa Malaysia ditaksir bakal turun menjadi 39% di tahun ini. Pangsa negara produsen sawit lainnya belum berubah.

Data Oil World juga menyebutkan, produksi sawit dunia pada 2011 diprediksi mencapai 46 juta ton dengan total area yang digunakan untuk menanam sawit di seluruh dunia mencapai 12 juta hektare. Sebagian besar lahan perkebunan kelapa sawit itu berlokasi di Indonesia dan Malaysia.

Oil World memaparkan, minyak sawit kini menjadi minyak nabati dunia paling penting. Di antara seluruh jenis produksi minyak nabati, sawit berada di posisi teratas (dengan pangsa 30%), diikuti minyak kedelai (29%), minyak biji rape (14%), minyak bunga matahari (8%), dan lainnya (19%).

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More