Lokakarya Karet Nasional 2011

Lokakarya Karet Nasional 2011

Lokakarya Karet Nasional 2011

Lokakarya Karet Nasional 2011

Lokakarya Karet Nasional 2011

Lokakarya Gula Nasional 2011

Lokakarya Karet Nasional 2011

Lokakarya Gula Nasional 2011

Selasa, 17 April 2012

Kinerja Bursa Saham AS Meningkat, Harga Kakao Pun Melonjak

Pada akhir perdagangan di bursa ICE Futures dini hari tadi harga kakao berjangka tampak mengalami peningkatan. Harga kakao menguat dengan signifikan seiring dengan naiknya kinerja di bursa saham AS. Kekhawatiran mengenai kondisi krisis utang Eropa mulai mereda.

Kenaikan di bursa saham membuat sentimen umum di pasar komoditas juga tampak menguat. Tadi malam ECB menyatakan rencana untuk membeli obligasi pemerintah Spanyol guna menjaga agar imbal hasil obligasi tidak mengalami kenaikan. Hal ini sedikit meredakan hembusan sentiment negative mengenai kawasan euro.

Dini hari tadi harga kakao berjangka di bursa ICE Futures untuk kontrak pengiriman bulan Mei mengalami peningkatan sebesar 34 dolar (1.64%) dan ditutup pada posisi 2104 dolar per ton. Sementara itu harga kakao berjangka di NYSE London tampak mengalami peningkatan sebesar 1 poundsterling (0.07%) di posisi 1390 poundsterling per ton.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga komoditas masih akan cenderung berada dalam trend yang sideways, dengan trend minor yang melemah. Saat ini harga kakao berjangka diperkirakan masih akan berada pada kisaran 2000 - 2200 dolar per ton.

Pilihan Para Investor

Kontrak berjangka komoditas perkebunan tidak sebatas minyak sawit mentah saja. Kakao, saat ini, juga layak menjadi pilihan investor yang ingin mendiversifikasikan portofolionya. Harga kakao sedang mulai mengalami peningkatan. Investor bisa mencermati waktu yang pas untuk mereguk cuan. Harga kakao mulai membaik

Renji Betari, Analis Pasar Fisik Komoditas SoeGee Futures, menuturkan harga kakao membaik dan terus membaik. Persediaan kakao dengan mutu standar di gudang-gudang Eropa yang dipantau oleh bursa London telah turun 36% selama dua bulan terakhir.. Saat ini, cadangan yang ada hanya sekitar 52.760 ton, turun dari sebelumnya, yaitu 82.000 ton.

Stok kakao menipis, mengikuti penurunan produksi perkebunan di Pantai Gading. Panen kakao terganggu karena cuaca yang tidak menentu. Sekadar informasi, Pantai Gading memasok hingga 37% dari total produksi kakao di seluruh dunia. Dua produsen kakao terbesar berikutnya adalah Ghana, yang memasok 25% dan Indonesia (15%).

Namun di saat produksi turun, permintaan stagnan. “Pelemahan ekonomi Eropa ikut memukul permintaan, karena zona itu merupakan konsumen terbesar kakao.. Menurut Ranji, sekitar 70% dari permintaan kakao berasal dari Eropa.

Pada perdagangan terakhir di ICE Futures Amerika Serikat kontrak pengiriman kakao untuk Juli ditutup senilai US$ 2.108 per ton. Saat harga jatuh bisa diartikan sebagai masa bagi investor untuk memasang posisi beli. Yang perlu diingat, harga rata-rata tahunan kakao berada di kisaran US$2.200 hingga US$2.300 per ton.

Menurut Ranji, Ini merupakan waktu yang tepat untuk strong buy. Hitung-hitungan Renji, harga rata-rata kakao dalam dua tahun sekitar US$2.800 hingga US$3.000 per ton. Sedangkan Juni menilai harga kakao bisa turun, sehingga waktu terbaik untuk membeli ketika harga di bawah US$ 2.000 per ton. Juni memprediksi, dalam seminggu ini, kakao akan bergerak dalam rentang harga US$1900 hingga US$2.383 per ton.

Di bursa Berjangka Jakarta (BBJ) menurut projeksi Ranji, era beli berkisar Rp. 20. 000 hingga Rp. 21. 000. “ target saya pada agustus mendatang, harga bisa mencapai Rp. 23. 000 hingga Rp. 24. 000 per kg. BBJ SoeeGee termasuk market untuk kakao.

Harga Ditingkat Petani
Namun harga kakao di Mandailing Natal (Madina), dalam sepekan terakhir ini, harga kakao mengalami penurunan. Harga terus anjlok dari kisaran harga antara Rp 15.000 - 17.000 menjadi Rp 12.000 per kilogram (kg). Kondisi ini mengakibatkan petani kakao mengeluh apalagi hasil penen juga ikut turun.

Sebelumnya harga kakao masih relatif bagus pada kisaran Rp 15.000 – Rp 17.000 per kg, namun dalam sepekan terakhir ini harga anjlok menjadi Rp 12.000 per kg untuk kakao yang sudah kering.

Selain harga yang terus anjlok, produksi kakao masyarakat pun ikut menurun. Penurunan produksi ini diakibatkan oleh pengaruh cuaca ekstrem yang kadang hujan, kadang panas sehingga menimbulkan berbagai penyakit menyerang pada biji kakao. Dua faktor inilah membuat petani mengeluh apalagi harga-harga kebutuhan pokok saat ini naik.

Pengakuan penurunan harga diakui seorang petani sekaligus pengepul Habib, Ia mengatakan harga kakao anjlok tidak diketahui secara pasti penyebabnya karena tidak ada keterangan dari pengumpul lain yang ada di daerah tersebut.

Hanya saja dia memprediksi penurunan harga hingga menjadi Rp12.000 per kg sejak 1 April lalu disebabkan rencana pemerintah menaikkan harga BBM, sehingga banyak dari para pengumpul menahan stok barang, sementara harga BBM tidak jadi naik.

Ditambahkannya, ada perbedaan harga antara Madina dan di Pasaman Sumatera Barat yang lebih mahal. “Jika di Madina harga Rp 12.000 per kg di Pasaman harga mencapai Rp 15.000 per kg. Inilah yang harus menjadi pertanyaan kita kenapa di Pasaman lebih mahal daripada di daerah ini.

Saya yakin jika BBM kembali aman harga akan kembali normal, memang satu sisi pengaruhnya juga akibat serangan berbagai hama terhadap tanaman kakao yang membuat kualitas kakao kurang bagus," tambahnya

Perkebunan Sumber Penerimaan Devisa Negara

Perkebunan selama ini memegang peranan yang penting sebagai sumber penerimaan devisa negara. Tahun 2010 devisa dari perkebunan mencapai USD20 miliar yang berasal dari kelapa sawit USD15,5 miliar, karet USD7,8 miliar dan kopi USD1,7 miliar. Penerimaan negara dari cukai rokok Rp63 triliun, bea keluar minyak kelapa sawit Rp20 triliun dan bea keluar kakao Rp615 miliar. 
 
Menteri Pertanian Suswono mengharapkan supaya Indonesia tidak lagi jadi eksportir barang mentah atau setengah jadi tetapi finish product sehingga nilai tambah ada didalam negeri. 

Peranan penting perkebunan yang lain adalah penyerap tenaga kerja. Di tingkat on farm saja tenaga kerja yang diserap mencapai 19,7 jutaorang. Peranan perkebunan tetap penting bahkan semakin penting untuk mengurangi kemiskinan, menyerap tenaga kerja, menjaga kelestarian lingkungan hidup dan sumber energi. 

Meskipun demikian tidak berarti tidak ada masalah di perkebunan. Banyak kritik yang menyatakan kelapa sawit tidak memberi kontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca. Padahal kelapa sawit sebagai tanaman juga punya fungsi sebagai produsen 02. Terbukti bahwa simpanan CO2 di kebun kelapa sawit jauh lebih besar ketimbang semak belukar dan alang-alang, berarti kelapa sawit memberikan kontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca. 

Karena itu menurut Suswono, lahan terlantar jangan dibiarkan karena matahari bersinar tiap hari harus dimanfaatkan. Ada lagi black campaign bahwa kelapa sawit merusak lingkungan. Semua isu itu adalah cara-cara negara pesaing agar kelapa sawit tidak diterima pasar. Buktikan bahwa ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) bisa menjawab tuduhan itu tidak benar. 

Suswono menyatakan terimakasih pada Pemda Kalimantan Tengah yang sudah mengeluarkan perda sebagai tindak lanjut Permentan no 26tahun 2007 pasal 11 yang mewajibkan semua perusahaan perkebunan menjalin kemitraan dengan masyarakat minimal 20% dari lahan yang ditanami. 

Permentan ini keluar karena pemerintah sadar bahwa perkebunan merupakan bisnis yang padat modal sehingga tidak mungkin rakyat bisa menangani dalam skala yang luas. Karena itu rakyat bisa diikutsertakan bila perusahaan perkebunan mengalokasikan 20% lahanya untuk kemitraan. 

“Saya sudah minta pada Dirjenbun segera melakukan audit bagi seluruh pelaku usaha perkebunan siapa yang belum menjalankan kewajiban ini. Presiden SBY berpesan supaya negara harus dibangun dengan pemerataan dan berkeadilan. Dampak sosialnya luar biasa contohnya di Kalteng di daerah-daerah yang perkebunanya belum membangun plasma banyak masalah” katanya. 

Konflik sosial membuat cost lebih mahal. Membangun kemitraan merupakan bagian dari pengamanan sosial. Tidak ada konflik membuat pelaku usaha dapat bekerja dengan baik. Mentan juga mengapresiasi pengusaha yang sudah membangun kemitraan. 

“Saya bertanya pada Dirjen Perkebunan apakah ada batas waktu kapan plasma ini harus di dibangun. Ternyata dalam Permentan tidak disebutkan secara definitive kapan kebun plasma ini harus bangun. Karena itu tahun 2012 ini Permentan akan direvisi dan dengan jelas menyebutkan jangka waktu kapan kebun plasma harus dibangun” kata Suswono. 

Ke depan yang dikembangkan ditingkat on farm adalah peningkat produktivitas. Ini harus jadi sasaran utama dengan penanaman klon baru. Malaysia dengan luas lahan hanya separuh dari Indonesia ternyata produksi CPO hampir sama. Dengan mendekati produktivitas Malaysia maka produksi CPO Indonesia bisa mencapai dua kali lipat. 

Perkebunan juga diminta melakukan diversifikasi usaha dengan tumpang sari tanaman pangan dan ternak. Daun sawit, bungkil dan lumpur sawit bisa menjadi pakan sapi. Karena itu pemerintah mengenakan bea keluar bungkil sawit supaya tidak diekspor tetapi dimanfaatkan untuk pakan ternak. Kedepan integrasi sapi sawit harus jadi kewajiban. 

Lahan Gambut Untuk Tanaman Tebu

Luas lahan rawa di Indonesia tercatat sekitar 33,3 juta ha yang tersebar di pulau Kalimantan, Sumatra, Papua, dan Sulawesi. Dari luasan tersebut terdapat lahan gambut atau bergambut seluas 21 juta ha dan yang mempunyai lapisan pirit dilaporkan sekitar 1,5 juta ha, selain itu terdapat sekitar 9 juta ha lahan rawa di Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian. 
 
Dengan demikian, jika lahan tersebut dapat dikelola dengan baik dengan input teknologi yang memadai akan diperoleh sumbangan produksi pertanian yang sangat besar. Namun kendala utama yang akan dihadapi dalam pengembangan lahan rawa adalah infrastruktur pengelolaan air (saluran dan pintu-pintu air) yang tidak memadai, infrastruktur jalan yang terbatas, sumberdaya petani (jumlah dan keterampilan) yang rendah, dan kondisi kesuburan tanah yang relative rendah.
Potensi lahan gambut tidak hanya untuk usaha tanaman semusim, namun juga untuk tanaman perkebunanan seperti sawit, karet, dan tebu. Pengembangan lahan perkebunan seperti sawit dan karet makin intensif dilakukan akhir-akhir ini yang apabila dilakukan dengan tidak hati-hati akan menimbulkan dampak lingkungan yang tidak kecil. Sedangkan penggunaan lahan gambut untuk pengembangan tanaman tebu di Indonesia belum banyak dilakukan, seperti yang sudah dilakukan di Australia. 

Petani di negara bagian New South Wales Australia telah memanfaatkan lahan gambut untuk usaha tanaman tebu sejak 50 tahunan yang lalu. Australia memiliki lahan gambut yang berpirit (sulfat masam potensial) seluas 40.000 km2. Lahan ini memiliki lapisan pirit dibawah perrmukaan yang apabila terekspose ke udara/oksigen melalui penggalian atau penurunan muka air tanah akan menyebabkan pemasaman tanah yang sangat ekstrim (pH <3). 

Dengan teknologi yang dimiliki, Australia telah berhasil mengembangkan lahan sulfat masam dengan tingkat produktivitas yang tinggi dan menekan serendah mungkin tingkat kerusakan lingkungan. Pengalaman pengembangan lahan gambut di Australia akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kehati-hatian dalam memanfaatkan lahan gambut di indonesia untuk pertanian sehingga kerusakan yang pernah terjadi selama kegiatan PLG tidak terulang lagi. 

Lahan Gambut Untuk Tebu 

Perkebunan tebu di negara bagian New South Wales (NSW) itu menempati areal seluas 38.000 ha, seluas 31.000 ha diantaranya ditanam di lahan gambut. Lahan tebu umumnya telah diusahakan cukup lama 30-80 tahun dengan tingkat produktivitas yang terus membaik dan input pupuk yang rendah, tebu yang ditanaman di lahan gambut tebal tidak pernah dipupuk sejak 50 tahun terakhir dan hasilnya tetap baik dan menghasilkan 90 ton/ha. 

Petani di Negara itu rata-rata pemilikan lahan tebu sekitar 300 ha per petani dengan produktivitas sekitar 90-120 ton/ha dan rendemen sekitar 10-12%. Saat ini terdapat tiga pabrik yang mengolah tebu petani menjadi “raw sugar” dengan kapasitas produksi 550 ribu ton perpabrik. Selain itu terdapat satu pabrik untuk mengolah “raw sugar” menjadi gula siap konsumsi dengan produksi gula sekitar 2 juta ton per tahun. Tingkat konsumsi gula di negara bagian NSW sekitar 500 ribu ton, dengan demikian sekitar 1,5 juta ton diekspor. 

Penggunaan mesin-mesin pertanian (mekanisasi) untuk penyiapan lahan, penanaman, pemupukan dan panen sudah sangat intensif sehingga mengurangi penggunaan tenaga kerja manusia. Untuk mengelola lahan seluas 300 ha hanya diperlukan dua orang tenaga kerja manusia untuk mengoperasikan mesin-mesin pertanian. 

Kegiatan panen tebu misalnya hanya menggunakan 2dua orang tenaga manusia satu orang operator mesin panen dan satu orang pengemudi truk. Penggunaan mekanisasi pertanian ini mampu memanen tebu sebanyak 1200 ton/hari atau 10-12 ha/hari tebu. Sebelum mekanisasi digunakan, diperlukan 53 orang tenaga kerja pemotong tebu untuk memanen tebu dengan luasan yang sama. Kelebihan dari penggunaan mekanisasi tidak hanya pada penghematan waktu dan tenaga manusia, tetapi juga daun tebu telah terpisah dari batang tebu dalam bentuk sudah terpotong-potong yang secara otomatis disebar ke lahan. 

Pengembalian daun dan akar tebu ke lahan akan mempertahankan kadar bahan organik tanah tetap tinggi sehingga kesuburan tanahnyapun dapat dipertahankan. Dengan teknik tersebut maka seorang petani mengemukakan bahwa tanaman tebunya tidak pernah diberi pupuk kimia sejak 50 tahun terakhir dengan hasil tebu tetap tinggi rata-rata 90 ton ha.
Pengamatan di lahan usahataninya menunjukkan bahwa tingkat kematangan gambutnya sudah sangat matang dan tebal. Proses pematangan gambut yang telah berlangsung selama 90 tahun tersebut meningkatkan ketersediaan hara dan memperbaiki kemasaman tanah. Namun demikian, dampak negatifnya adalah terjadinya penurunan permukaan lahan sedalam 6 meter atau rata-rata 5-7 cm pertahun akibat subsidensi atau pemadatan dan dekomposisi gambut. 

Kelangkaan dan mahalnya tenaga kerja manusia di NSW itu memaksa petani untuk menggunakan mekanisasi pertanian. Pengadaan alat dan mesin pertanian (alsintan) dilakukan secara berkelompok dengan anggota 20 orang petani per kelompok. Biaya operasional dan operator serta biaya pemeliharaan ditanggung bersama. Pengadaaan alsintan secara berkelompok sangat membantu petani karena besarnya investasi yang harus ditanamkan untuk pengadaan alsintan. Pengadaan alsintan sepenuhnya atas biaya petani tanpa sedikitpun bantuan dari pemerintah. Seorang petani mengatakan bahwa luas lahan tebu minimal agar feasible adalah 10 ribu ha per petani. 

Untuk mencapai kondisi produktivitas seperti saat sekarang ini diperlukan waktu 30 – 50 tahun. Lamanya waktu yang diperlukan untuk mematangkan lahan gambut untuk perkebunan tebu antara lain disebabkan oleh 1). kondisi lahan gambut pada 60 tahun yang lalu belum matang, banyak tunggul dan batang pohon yang besar-besar, 2) gambut masih kurus dan tebal (>3 meter) karena bahan organiknya belum terdekomposisi, 3) jaringan drainasi dibangun oleh petani sendiri tanpa bantuan pemerintah, dan 4) pengalaman mengelola lahan gambut yang benar belum ada. 

Lahan Gambut di Indonesia 

Indonesia yang memiliki lahan gambut yang sangat luas lebih dari 20 juta ha dan sekitar 9 juta ha diantaranya sangat potensial untuk pengembangan pertanian dengan tingkat kendala biofisik dan sosial yang bervariasi. Sejauh ini, pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian masih kurang intensif. Pengembangan tebu di lahan gambut sangat potensial dan dapat mengurangi terjadinya konflik lahan dengan komoditi tanaman pangan. Petani di negara bagian New South Wales Australia telah membuktikan bahwa selama 50 tahun menanam tebu di lahan gambut tidak menimbulkan konflik sosial dan lingkungan yang menonjol dengan tingkat produktivitas tebu yang tinggi 90 – 120 ton ha-1 dan rendemen sekitar 11%. 

Petani tebu di Australia menanami lahan tebunya dengan kedelai setelah panen tebu sebanyak 5 kali. Panen tebu dilakukan sekali dalam setahun. Bandingkan dengan produktivitas tebu di Indonesia yang 80 ton ha dengan rendemen 7%. Tebu di Indonesia umumnya ditanam di lahan sawah beririgasi teknis di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Lampung, sehingga menimbulkan terjadinya persaingan lahan dengan tanaman padi dan palawija. 

Daerah-daerah gambut di Indonesia yang berpotensi untuk pengembangan tebu adalah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Merauke, Sumatra Selatan dan Jambi. Potensi lahan gambut untuk pengembangan tebu didaerah tersebut dapat mencapai 1 juta ha. Apabila tingkat produktivitas diperhitungkan sekitar 70 ton/ha dan rendemen sekitar 6%, maka akan diperoleh tambahan gula sebanyak 4,2 juta ton. 

Untuk mempercepat proses pematangan dan penyiapan lahan diperlukan adanya kebijakan pengembangan lahan gambut pemerintah untuk komoditi tertentu seperti tebu. Intevensi pemerintah adalah dalam bentuk penetapan sentra-sentra prosuksi tebu dengan luasan yang memadai dengan luas areal 25 ribu ha per sentra prosuksi, adanya insentif harga dan jaminan pemasaran sehingga meransang motivasi petani untuk menanam tebu, pengembangan jaringan tata air yang sesuai dengan karakteristik lahan gambut sehingga meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan, pengembangan alsintan khusus untuk tebu untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja manusia di lahan rawa, pendirian pabrik gula skala sedang di setiap sentra produksi, dan memfasilitasi terjadinya sinergi antara petani melalui kelompok tani dengan peneliti, penyuluh dan swasta. 

Karet Komoditi Tradisional

Tanaman karet di Kalimantan Timur merupakan komoditi tradisional yang sudah relatif lama diusahakan sebagai perkebunan rakyat, namun karena pengaruh harga yang berfluktuasi sangat tajam usaha perkaretan beberapa waktu yang lalu sempat ditinggalkan oleh petani perkebunan dan beralih kepada usaha lain yang dianggap lebih menguntungkan.
Namun seiring dengan semakin membaiknya harga karet di pasaran. komoditi karet kembali banyak diusahakan oleh masyarakat di beberapa tempat. Saat ini komoditi karet dianggap sebagai sumber mata pencaharian utama masyarakat di daerah tersebut. 

Luas areal pertanaman karet saat ini tercatat seluas 84.367 Ha. Areal tersebut terdiri dari areal perkebunan rakyat 77.076 Ha, perkebunan besar negara sebesar 700 Ha dan perkebunan besar swasta 6.591 Ha dengan produksi seluruhnya berjumlah 57.793 ton lumb. 

Produk tersebut pada umumnya dipasarkan ke Banjarmasin untuk kebutuhan pabrik Crumb Rubber. Pusat pertanaman karet terbesar berada di Kabupaten Kutai Barat (Kecamatan Melak dan Barong Tongkok) yang dikembangkan oleh petani pekebun melalui proyek TCSSP bantuan dari Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB). 

Produk tersebut pada umumnya dipasarkan ke Banjarmasin untuk kebutuhan pabrik Crumb Rubber. Pusat pertanaman karet terbesar berada di Kabupaten Kutai Barat (Kecamatan Melak dan Barong Tongkok) yang dikembangkan oleh petani pekebun melalui proyek TCSSP bantuan dari Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB). 

Areal penanaman karet lainnya yang cukup luas berada di Kecamatan Palaran dan Samarinda Ilir (Kota Samarinda), Kecamatan Balikpapan Timur dan Balikpapan Utara (Kota Balikpapan), Kecamatan Segah dan Talisayan (Kabupaten Berau), Kecamatan Tanjung Selor (Kabupaten Bulungan), Kecamatan Kota Bangun, Marang Kayu, Samboja dan Muara Badak (Kecamatan Kutai Kartanegara). 

Selain itu juga terdapat kebun plasma milik petani pekebun di Kecamatan Long Kali (Kabupaten Paser) dan di Kecamatan Marang Kayu (Kabupaten Kutai Kartanegara) yang kedua - duanya merupakan binaan dari PTPN XIII. Perkebunan Karet milik perkebunan besar swasta terletak di Kabupaten Penajam Paser Utara milik PT. Majapahit Agroindustri Corp Ltd dan di Kabupaten Kutai Kartanegara milik PT. Hasfarm Product. 

Peluang Industri Produk Karet
 
Hasil utama dari pohon karet adalah lateks yang dapat diperdagangkan oleh masyarakat berupa lateks segar,slab/koagulasi maupun sit asap/ sit angin. Selanjutnya produk tersebut sebagai bahan baku pabrik Crumb Rubber/Karet Remah yang menghasilkan bahan baku untuk berbagai industri hilir seperti ban, sepatu karet, sarung tangan dan lain - lain. 

Pada tahun ini Pemkab Malinau (Kaltim) telah memprogramkan pembuatan kebun entres karet di Kecamatan Malinau Marat, tepatnya di Desa Kuala Lapang. Kebun entres ini sekitar 2 hektare dan akan dikelola langsung Dinas Perkebunan. Demikian disampaikan Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Malinau Lawing Liban. 

Mantan Sekretaris Disbun Malinau ini mengatakan, kebun entres ini sebagai upaya menyiapkan bibit unggul untuk masyarakat. Di kebun entres karet ini, Disbun akan melakukan okulasi sebagai upaya pengembangan bibit karet dengan cara menempel mata tunas baru dari bibit unggul. Yakni dari bibit pohon karet yang memiliki banyak getahnya. 

Dalam pengelolaan kebun entres karet itu, Disbun akan menempatkan petugas khusus yang melakukan okulasi (penempelan mata tunas karet baru). Petugas itu dari pusat penelitian karet Getas, dari Salatiga, Jawa Tengah. Semua bibit karet katanya, disiapkan untuk kemudian diserahkan kepada sejumlah penangkar. 

Harga 
 
Sementara itu harga bahan olah karet pabrik kualitas 90 persen tercatat Rp30.782 per kilogram, turun dibanding pekan sebelumnya Rp31.082 per kg. harga bahan olah karet (bokar) kualitas 90 persen dalam sepekan terakhir belum stabil, karena pengaruh pasaran di luar negeri. 

Berdasarkan data di Gapkindo setempat harga bokar kualitas 90 persen pada 2 April Rp31.058, selanjutnya 4 April naik menjadi Rp31.082 per kg dan terakhir hingga saat ini turun menjadi Rp30.782 per kg. Dikemukakannya, berdasarkan data selama sepekan tersebut harga bokar pabrik di tingkat pengusaha industri pengolahan anggota Gapkindo Sumsel, ternyata tidak stabil selalu terjadi perubahan. 

Hingga saat ini harga masih tetap berpatokan dengan pasaran di luar negeri, karena sebagian besar hasil karet dari provinsi itu diekspor. Karet Kaltim yang diekspor rata-rata per bulan mencapai sekitar 60 ribu hingga 70 ribu ton. Sementara hasil karet petani selama ini selain dibeli langsung oleh pedagang pengumpul, juga sebagian daerah ada yang menjual melalui lelang koperasi unit desa, setelah itu baru dipasok ke perusahaan anggota Gapkindo. 

Secara keseluruhan nilai ekspor Sumsel pada Januari 2012 mengalami peningkatan sebesar 2,07 persen dibanding Desember 2011, yakni dari 308,77 juta dolar Amerika Serikat menjadi 315,16 juta dolar AS. Dari total nilai ekspor tersebut terdiri atas minyak dan gas 45,370 juta dolar AS, dan nonmigas 269,789 juta dolar. 

Dikemukakannya, nilai ekspor nonmigas Kaltim pada Januari 2012 masih didominasi komoditi hasil pertanian, terutama karet mencapai 219,52 juta dolar AS, menyusul batu bara 2,83 juta dolar AS dan kayu/produk kayu 1,50 juta dolar AS. 

Potensi Pasar Ekspor Karet Indonesia

Konsumsi karet dunia dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami peningkatan, jika pada tahun 2009 konsumsi karet dunia sebesar 9,277 juta ton, sedangkan pada tahun 2010 naik menjadi 10,664 juta ton. Sementara produksi karet mentah dunia hanya mampu memberikan sebanyak 10,219 juta ton pada tahun 2010 naik dibandingkan dengan tahun 2009 yang sebesar 9,702 juta ton karet alam atau minus sekitar 445.000 ton. Harga karet di pasar dunia dipengaruhi oleh tingginya permintaan terhadap komoditas itu dari negara-negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat seperti China, India, dan Asia Pasifik.

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik bahwa untuk luas areal karet Indonesia sebagai yang terbesar di dunia dengan luas 3,4 juta hektar, diikuti Thailand seluas 2,6 juta hektar dan Malaysia 1,02 juta hektar. Meski memiliki lahan terluas, produksi karet Indonesia tercatat sebesar 2,4 juta ton atau di bawah produksi Thailand yang mencapai 3,1 juta ton, sedangkan produksi karet Malaysia mencapai 951 ribu ton. Untuk mutu bahan olah karet rakyat (bokar) sangat menentukan daya saing karet alam Indonesia di pasar International.
Dengan mutu bokar yang baik akan terjamin permintaan pasar jangkan panjang. Mutu bokar yang baik dicerminkan oleh Kadar Kering Karet (KKK) dan tingkat kebersihan yang tinggi. Upaya perbaikan mutu bokar harus dimulai sejak penanganan lateks di kebun sampai dengan tahap pengolahan akhir.

Indonesia pada tahun 2010 hanya mampu memberikan kontribusi untuk kebutuhan karet dunia sebanyak 2,41 juta ton karet alam atau urutan kedua setelah Thailand yang sebesar 3,25 juta ton. Menurut data Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO), untuk tahun 2011 produksi karet alam dunia diasumsikan hanya berkisar 10,970 juta ton sementara untuk konsumsi diperkirakan mencapai 11,151 juta ton sehingga terjadi kekurangan pasokan atau minus sekitar 181.000 ton.

Kurangnya produk karet alam dunia di tahun 2011 salah satunya di karenakan terganggunya produksi karet di beberapa negara seperti Australia, hujan deras yang disebabkan oleh lamina yang juga menyebabkan banjir di negara tersebut telah mengganggu proses penyadapan karet. Kemudian di Thailand asosiasi natural rubber producing countries di Thailand memperkirakan produk karet alam pada musim dingin yang berlangsung mulai Febuari-Mei berdampak pada menurunnya produk karet hingga 50 persen.

Menurut data dari BPS, dengan adanya asumsi tersebut, dipastikan Indonesia berpeluang besar untuk memasok karet alam hasil produk Indonesia ke luar negeri/ekspor dan tentunya dengan catatan untuk produk karet Indonesia agar lebih ditingkatkan. Untuk tahun 2010 ekspor karet Indonesia sebesar 1,9 juta ton. Diperkirakan untuk targetnya tahun ini ekspor karet bisa naik hingga 10%.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More